Orang yang hidup dalam penyesalan tentang masa lalunya, tidak menarik
untuk menjadi teman seperjalanan menuju masa depan. (Mario
Teguh)
Anak dari Malang, Jawa Timur, Dani (7 tahun) berebut baju dengan kakak
tirinya, Dina (8 tahun). Gara-gara sehelai baju, mereka berselisih dan tidak ada
yang mau mengalah. Namanya anak-anak, kukuh dengan keinginannya. Melihat hal
ini, ayahnya yang bernama Deny, tampak kesal dan menjadi emosi melihat
anak-anaknya bertengkar.
Entah setan dari mana, tiba-tiba ayahnya dengan penuh emosi langsung
mengambil sepotong bambu. Lalu, Dani, anak laki-laki yang masih berusia 7 tahun
ini, dihajar dan dipukuli berkali-kali dengan bambu. Terus dipukuli dan dipukuli
sekenanya di tubuh anaknya ini.
Ayahnya ini benar-benar sudah gelap mata! Darah yang mengucur di tubuh
anaknya sama sekali tidak mampu membuka mata hatinya. Ayahnya semakin beringas
dan kalap ketika ayunan bambu terus dan terus menghantam tubuh anak yang masih
berusia 7 tahun ini!
"Yah, saya minta maaf...," dengan lirih Dani yang tergeletak berkata kepada
ayahnya setelah habis dipukulinya.
Kemudian, dengan suara sangat pelan, Dani meminta es krim. Setelah
mencicipinya, Dani menghembuskan napas terakhir. Dani tewas di tangan ayahnya!
Melihat kenyataan ini, ayahnya menyesali atas perbuatannya. Tetapi nasi sudah
menjadi bubur, penyesalan ayahnya sudah terlambat. Kisah nyata ini terjadi di
Kota Malang pada tahun 2015 yang dimuat di
Metrotvnews.com.
Andy Noya, pembawa acara Kick Andy di Metro TV, pernah mengalami penyesalan
selama hidupnya. Dalam buku Andy Noya, "Kisah Hidupku" yang ditulis Robert Adhi
Ksp, diceritakan bagaimana Andy Noya menyesali sebuah permintaan orangtuanya
yang diabaikannya.
Pada tahun 1979, Andy Noya bersama orangtuanya tinggal di Irian Barat
(sekarang Papua). Selama di Irian Barat, hidup Andy dan orangtuanya sangat
kekurangan. Tinggal di losmen sempit yang masih berlantai tanah merah.
Pekerjaan ayah Andy pada waktu itu sebagai montir mesin tik. Semakin hari
order servis mesin tik semakin sepi. Ditambah lagi ayahnya kini sakit-sakitan.
Suatu hari, Andy ingin menonton Sarung Tinju Emas, olahraga tinju yang sangat
digemarinya. Tetapi entah kenapa, sore itu ayahnya tiba-tiba melarang Andy
pergi. Ayahnya meminta agar Andy di rumah saja menemani ibunya.
Andy kecewa dan marah! Tidak biasanya ayahnya bersikap seperti itu. Andy
bersikap tidak mau mengalah bahkan bersikukuh menonton tinju dengan cara
membujuk ibunya agar diperbolehkan.
Akhirnya, ibunya dengan berat mengizinkan. Andy segera bergegas keluar rumah.
Namun ketika Andy baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ibunya berteriak
panik.
" An, papi, papi, tolong!"
Andy kaget, kemudian berbalik dan langsung menerobos pintu kamar
ayahnya.
Dilihat ayahnya sudah tersungkur di lantai. Andy kemudian
menolongnya. Mata ayahnya menatap Andy dalam-dalam, mulutnya komat-kamit seperti ingin
menyampaikan sesuatu, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Pada saat
itu juga ayahnya meninggal di pangkuan Andy!
Dalam
buku itu, Andy menulis, "
Kalau ada yang masih kusesali
sampai hari ini, ayah pergi dalam kondisi kami sedang bertengkar...."
Ahli kimia
Alfred B Nobel (1833-1896) asal Swedia, seorang penemu
dinamit, mengalami juga penyesalan dalam hidupnya.
Pada tahun 1866, Nobel menemukan bahan peledak yang berfungsi untuk
pengeboran, peledakan batu, pertambangan, dsb. Bahan peledak ini dinamainya
dinamit. Bahkan kemudian dinamit ini memiliki detonator, alat pemicu ledakan.
Penemuan dinamit ini mengilhami pihak militer untuk dipakai dalam perang.
Faktanya memang dinamit dipergunakan sebagai senjata perang yang membunuh ribuan
manusia di muka bumi.
Maka menyesallah Nobel atas penemuannya ini. Penemuan yang disalahgunakan
yang membuat banyak orang menderita.
Akhirnya, dalam surat wasiat Nobel yang dipublikasikan pada tahun 1888, ia
memberikan sebagian hartanya untuk dipergunakan pada perkembangan ilmu
pengetahuan dan perdamaian di dunia. Dari sinilah tradisi penganugerahan Hadiah
Nobel yang berlangsung hingga sekarang!
Saya sebagai anak asli Paniai – Papua, saya selalu ingin tahu dengan
kisah-kisah seperti contoh diatas yang tidak jauh berbeda dengan kisah
tragedi (Paniai berdarah) Police’s Christmas gift.
(*)Letusan senjata diiringan jatuhnya puluhan warga akibat terbembus peluru
di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Ibu Kota Kabupaten Paniai, dua tahun lalu, 8
Desember 2014 sekitar pukul 10:30 waktu setempat, menyisakan duka hingga kini.
Sebanyak 18 warga sipil terluka. Empat siswa SMA dan seorang petani
menghembuskan nafas terakhir. Tanggal itu, tak akan hilang dari benak masyarakat
Paniai. Dihari naas tersebut, mereka kehilangan sanak keluarga. Maut dengan
perantara timah panas, entah siapa pemiliknya, dipaksa menjemput mereka.
Alpius Youw (17) siswa SMA YPPK Epouto, Yulian Yeimo (17) siswa SMA YPPGI
Enarotali, Simon Degei (18) siswa SMA Negeri 1 Enarotali, Alpius Gobai (17)
siswa SMA Negeri 1 Enarotali tergeletak tak bernyawa. Selain keempatnya, Abia
Gobai (28), petani dari Enarotali juga dijemput mau meski sempat dirawat di RSUD
Madi, Paniai.
Beberapa korban ini adalah teman sebaya saya. Police’s Christmas gift seharusnya tidak seperti itu. Maksud saya kalau
berikan kejutaan buat mereka janganlah training kayak ateis yang tidak tahu nama
Tuhan sama sekali. Kan anak-anak SMA, mereka merayakan dengan sorak-sorai di
pondok Natal mereka, sedangkan Aparat datang malam-malam tanpa lampu lagi.
Meman
itu hak dan kewajiban anda sebagai penjaga dan pelayan masyarakat malah Aparat
punya pikirannya kembali ke new-born. Tidak tahukah Anda bahwa Hari besar itu
harinya Anda untuk mengamankan?bukan do bad things.
Penyesalan tadi akan diukir pelaku-palaku di Paniai berdarah 3 tahun silam.
Makna penyesalan
Psikolog Graham Loomes dan Robert Sugden mengemukakan tentang Teori
Penyesalan (Regret Theory). Teori tersebut mengatakan bahwa penyesalan terjadi
karena berbedanya antara yang diharapkan dengan kenyataan yang diterima.
Menurut Marc Muchnick dalam buku
No More Regrets! Create A Better
Tomorrow Today (2011), disebutkan bahwa (1) penyesalan berkaitan dengan
segala hal yang telah terjadi, namun kejadian tersebut sama sekali tidak
diharapkan. Sebaliknya, (2) mengharapkan sesuatu hal terjadi, tetapi malah tidak
menjadi kenyataan.
Kedua poin ini memiliki sisi yang sama, yaitu kegagalan. Gagal menolak
kenyataan yang terjadi, gagal pula mendapat yang diingini. Hasilnya rasa kecewa
yang berujung penyesalan.
Dari keempat kisah nyata Dani, Andy Noya, Alfred Nobel, dan Paniai Berdarah
tampak terlihat adanya penyesalan dan rasa bersalah. Mereka menyesali apa yang
sudah terjadi. Akibatnya, timbul rasa bersalah pada diri sendiri.
Rasa bersalah
Psikolog Clyde M Narramore dari Columbia University membagi dua jenis rasa
bersalah, yaitu rasa bersalah obyektif dan rasa bersalah subyektif. Rasa
bersalah obyektif terjadi karena melanggar hukum. Sedangkan rasa bersalah
subyektif terjadi karena timbul rasa bersalah pada diri sendiri.
Narramore juga membagi rasa bersalah dalam beberapa karakteristik, di
antaranya perasaan depresi (feeling of depression), sebuah perasaan bersalah
terus-menerus yang menyalahkan diri sendiri. Kemudian ada yang disebut
penghukuman diri sendiri (self-condemnation), terus-menerus mengutuk diri
sendiri karena telah melakukan kesalahan.
Penyesalan dan rasa bersalah memang sulit dipisahkan. Tetapi menurut psikolog
Agustine Dwiputri, penyesalan tidak selalu sama dengan kesalahan. Justru kita
bisa belajar dari kesalahan yang dilakukan, artinya tidak perlu timbul rasa
sesal.
Kompas.com/psikologi
Penyesalan benih depresi
Sejauh mana penyesalan yang diidap seseorang tergantung karakteristik
masing-masing individu. Apabila seseorang memiliki sifat optimistis, biasanya
tidak mudah larut dalam penyesalan.
Menyesal ya, tetapi segera memperbaiki diri agar tidak mengulang yang sama.
Sebaliknya, yang memiliki sifat pesimistis, biasanya mudah larut dan bisa
berkepanjangan tanpa akhir yang berujung depresi.
Berikut adalah dampak penyesalan berkepanjangan yang akan merugikan diri
sendiri.
Stress (perasaan tertekan dan bersalah), Trauma (perasaan takut bila
menghadapi hal yang sama), Menyalahkan diri sendiri, Menyalahkan orang lain,
Menyakiti diri sendiri, Tidak memiliki semangat hidup, Timbul berbagai penyakit,
Hubungan sosial rusak (menarik diri dari pergaulan), Sering putus asa, Tidak
percaya diri, Gangguan mental yang disebut depresi. Di kutip dari
berbagai
sources.
Mengatasi penyesalan
Penyesalan memang datang selalu belakangan. Tetapi, menyesali peristiwa yang
sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali, merupakan perbuatan yang sia-sia.
Cara untuk mengatasi penyesalan adalah berani menghadapi kenyataan, dengan
demikian bersikap optimistis dan berpikiran positif.
Menurut psikolog Agustine Dwiputri yang dikutip dari Kompas (9 April 2016)
dan juga dikutip dari berbagai sumber, cara mengurangi penyesalan, yaitu:
1. Bebaskan diri dari ikatan penyesalan dan miliki keberanian untuk mengambil
arah baru dan mengubah sekaligus menghentikan hal-hal yang merugikan diri
sendiri. 2. Tidak mengulangi kesalahan yang sama atau tidak lagi melakukan
perbuatan yang berujung penyesalan. 3. Berdamailah dengan diri sendiri. Bebaskan
cengkeraman ikatan emosional masa lalu yang membebani dan menyiksa diri sendiri.
4. Yakini dan miliki kepercayaan diri mampu mengatasi situasi serta yakin mampu
menghadapi tantangan hidup masa depan. 4. Jangan selalu mengeluh dan menyalahkan
orang lain. Saat mampu berhenti mengasihani diri sendiri maka perasaan menyesal
akan mereda. 5. Hindari orang-orang yang hanya "meracuni" saja, yang hanya
membuat hidup menjadi pasif. Sebaliknya, bergaullah dengan orang-orang yang
berpikiran positif, optimis, selalu memberi semangat. Sehingga hidup menjadi
termotivasi, percaya diri, bahagia. 6. Yakini masalah apa pun pasti berlalu. 7.
Dekatkan diri dengan Tuhan dan mohon pengampunan-Nya, sehingga jiwa menjadi
tenang. 8. Jadikan penyesalan ini sebagai pembelajaran hidup.
* Saya tidak menyimpulkan penyesalan atas
penembakan/pembunuhan dari Aparat RI terhadap masyarakat Paniai. Kejadian
seperti ini lebih ke arah pengampunan dari religius.