Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Jul 31, 2019

Selingkuhan dan Sabotase di Belakang Pacar Saya

Saya baru tahu kalau selingkuhan dan pelacuran adalah tidak jauh beda.

Pop Vahine II/pinterest
#cerpen

Saat beranjak tumbuh dewasa, saya selalu berpikir bahwa selingkuh pada dasarnya adalah hal buruk yang dilakukan orang ketika hubungan mereka tidak berhasil.

Seketika saya berusia 12 tahun, mamanya temanku kedapatan kalau ia berselingkuh dengan laki-laki lain. Saya ingat betul kejadian itu sangat terkejut dan tersinggung karenanya. Orang tuanya berpisah. Saya melihat bagaimana hal itu menghancurkan hidupnya.

Sementara saya berusia 16 tahun, masalah yang sama terulang lagi sama seorang kakak pengasuh segerejaku. Tentu, dia adalah kakak darah saya. Ia berpisah dengan istrinya karena kakak laki-laki itu berselingkuh dengan wanita lain. Saya melihat efek kecurangan dalam struktur keluarga dan lingkungan saya sendiri.

Saya selalu berbisik pada diri sendiri dan bisa mengatakan: "jika mereka merasa ingin selingkuh dengan pasangan mereka, mereka harus jujur ​​dengan pasangannya tentang perasaan itu."  Saya mengimajinasikan kalau saya tidak akan pernah melakukan perselingkuhan pada seseorang saat saya dewasa nanti.

Sekarang saya sudah lebih dewasa. Saya menyadari bahwa kedua pembuat kasus di atas juga manusia. Saya bisa mengerti kenapa orang menipu. Ketika kakak saya berselingkuh, saya berpikir, kenapa sampai kakak bisa menyakitiku sebagai adik kandung dan anak kecil kandungnya seperti itu, apalagi kakak sudah nama naik di gereja. Khususnya di kalangan sekolah minggu dan pemuda-pemudi di gereja.

Saya pribadi merasa jadi korban dari perilakunya, tetapi sekarang saya menyadari bahwa dia berada dalam pernikahan tanpa cinta dan bahagia.

Arloji terus beranjak. Saya sudah dalam dunia berpacaran dan itu adalah standar sejak umur sudah remaja beranjak dewasa di atas 17-an. Secara UU No.1 Tahun 1974, saya bisa melakukan hal-hal kedewasaan karena saya sudah di atas 16.

Pertama kali saya jatu dalam dunia perselingkuah. Itu adalah hanya satu hal. Pada saat itu, saya berada dalam hubungan yang baru berpacaran. Sebut saja Yewen, bukan Yewen Papua, komedian Asal Papua yah?

Yewen yang masih mencalonkan kimia bersama saya. Karena kami tidak resmi; tidak terlalu fokus pada berpacaran, saya tidur dengan orang lain. Tentu saja, orang yang saya tidur sama-sama adalah teman sekolah saya. Ia adalah orang pertama kali yang bertiduran sama saya dalam sejarah saya.

Saya belum memberitahunya tentang hal itu kepada Yewen karena atmosfer pacarannya seperti di mata saja, masih belum jatuh ke hati.

Saya merasa tidak perlu memberitahukan karena sekali lagi kami juga baru. Tidak masuk akal kan kalau kasih tahu. Saya takut kalau kemudian, Yewen meninggalkan saya setelah saya memberitahukannya.

Tapi sekitar tiga bulan kemudian, Yewen dan saya mengobrol dan memutuskan untuk menjadi pacar resmi. Pembelian pada gelang bintang kejora (GBK, bukan gelora bung karno) jadi saksi ikatan cinta buat kami berdua setelah kami memakai gelang di tangan kami masing-masing. Tanda serah terima sudah selesai.

Kira-kira sebulan kemudian, saya berselingkuh untuk pertama kalinya setelah resmi percintaan: saya kencan sama pemilik Honda Mega Pro FI 2014. Motor berpelat merah baru keluaran. Motornya milik orang kantor, tapi kayaknya motor tersebut di bawah oleh anaknya. Saat saya lagi menunggu mas ojek sekitar 5 sore waktu Papua di depan kantor media Jubi Papua, Waena, dia datang dan membonceng saya.

Ia tahu betul jam keluar saya dari Gereja. Ia biasanya menantikan saya tempat yang sama di dekat kantor Jubi. Bagaimanapun juga kita sudah menjadi dekat. Ia seorang yang baik, humoris, dan berbagi apa adanya. Tapi motor dan uangnya membuat saya menyerah dua kali lipat dan tentunya bertiduran sama dia.

Saya kira selingkuhan konek dengan emosi saya tentang adanya hubungan baru. Kedengarannya mengerikan, tetapi saya mengekspresikan. Ini mungkin kesempatan terakhir saya untuk melakukan hal serupa - main di belakang Yewen.

Dengan berpikiran egoisme saya, saya menganggap bahwa jika saya memberitahunya tentang hal itu kepada Yewen, dia akan berpikir, “saya adalah anak Gerejaan, dan sehabis pulang gereja, langsung ke rumah, jadi itu bukan masalah besar.”

Jelasnya, Yewen tahu amsal orang tua Papua yang selalu bilang ke anak-anaknya ketika pergi sekolah berjauhan dari orang tua tentang segitiga: gereja, rumah dan sekolah. Dia pikir saya sedang beraktifitas dalam ketiga lingkaran itu.

Tidak berpikir yang lain. Sayang ahh? Pikiranku.

Padahal saya merintis jalan baru. Saya buka garis baru menjadi segi empat. Jadinya, gereja, sekolah, rumah, dan perselingkuhan. Berpacaran tanpa diketahui pacar aslinya saya - Yewen - sembunyi-sembunyi.

Meskipun demikian, dia benar-benar kesal. Dia menanganinya dengan baik. Pikirin saya baik-baik saja, tapi kelakuan saya pasti membuat hubungan kami salah injak kaki.

Saya retrospeksi, apakah saya merusakkan diri pribadi dari hubungan kami karena semuanya tampak berjalan dengan baik sejak Yewen tidak komplain dengan saya.

Saya merasa tidak pantas bersama seseorang yang begitu penuh cinta dan baik hati - ia adalah pemain drum di Gereja dan bisa dibilang intelektual mudah karena kelakuannya yang rama. Sedangkan saya bermaksud merusak hubungan kami secara diam-diam. Yewen pegang saya terus meskipun saya bergaya dan baku bawa dengan laki-laki lain tanpa diketahui Yewen.

Bayang-bayangan tentang hubungan baku selingkuhan sekaligus baku pisah oleh karena perselingkuhan bertepatan dengan perpisahan kakak sungguh saya tadi. Saya mengalami banyak ketidak-happy-an sekaligus.

Apakah itu balas dendam atau mengikuti jejak kaka saya sendiri? Saya pikir tidak juga.

Kadang berpacaran dengan orang yang rajin dengan Gereja, sulit untuk berbisik guna melakukan bercintaan. Dunia itulah yang saya merasakan ketika saya berpacaran dengan Yewen. Apa lagi harus perempuan duluan kaksih tahu isyarat untuk berkencan. Tidak mungkin; di sisi lain.

Saya benar-benar kesal. Terluka untuk waktu yang lama karena saya mengingat seorang anak dan istrinya sudah menjadi satu keluarga, makan, tidur, dalam satu rumah, tapi sekarang sudah berjauhan. Ketika saya bertemu pria hebat seperti Yewen, dia memperlakukan saya dengan sangat baik, dia cinta kepada saya banyak.

Harga diri saya sangat rendah sehingga saya berpikir kalau saya menyabotase atau menghancurkan tali cinta. Saya akan cari pacar baru; Yewen harus bersama seseorang yang lebih baik dari saya, bukan seseorang yang tidur sebanyak yang saya lakukan dengan laki-laki lain. Bukan dia yang hancur dan tidak bahagia seperti saya. Saya tidak hendak mewarnai hidup Yewen dengan segenap kegelapan saya serta bayangan perselingkuhan.

Sesudah pertama kali saya selingkuh, saya memutuskan untuk mengambil risiko, menghadapi rasa tidak aman saya, dan menjalin hubungan berkomitmen dengan seseorang. Saya ingin belajar kembali keintiman, apa artinya berhubungan seks dengan satu pasangan - satu laki-laki saja yakni tidak lain, pacarku Yewen.

Tetapi lagi-lagi saya berselingkuh sekitar enam minggu kemudian. Saya bersandar dengan seorang pria yang saya temui di suatu tempat kursus bahasa Inggris, yang saya ikuti.

Tepatnya di bawah kaki gunung Cycloop, Sentani, Jayapura. Tidak perlu disebutkan lembaga kursusnya. Dia hampir mahir bicara bahasa inggrisnya.

Kamu pernah kah tidak, temui pria yang terlihat tahu betul tentang bahasa inggris di depan orang. Terutama orang yang cari perhatian kepada orang tertentu. Khususnya, saat mereka berbicara, speaking dan listening atau mendengarnya fasih ,tapi lemah pada writing – tulis dan baca, reading.

Nah, piria itu ciri-cirinya seperti itu, dia terlihat pintar berbahasa inggris di hadapan saya. Meskipun kata-kata terutama pronunciation - cara pengucapannya salah-salah.

Tapi kam?

Kami sudah saling kenal untuk sementara waktu. Kami selalu menggoda. Kami pergi keluar sama-sama.

Kami makan bersama karena dia adalah sekelas dan selevel dengan saya pada kelas bahasa Inggris. Apa lagi, kami selalu pergi beli makanan yang dijual oleh mama-mama Papua di pasar Doyo Baru Sentani. Pasar yang diresmikan oleh presiden Jokowi itu.

Omong-omong, cara dia berbicara inggris membuat saya mengkhianati (menarik hati saya) pacar saya yang sebenarnya - Yewen. Ia lancar dengan bahasa-bahasa rap dan hip-hop. Saat dia rap, mama? saya hampir saja diskualifikasikan Yewen saja! sungguh mati.

Kursusnya hampir-hampir berakhir, jadi kami pergi minum-minum (tidak selalu alkohol ee??). Kami mencari makanan dengan beberapa teman untuk acara perpisahaan.

Di benaknya laki-laki itu terpikir bahwa kami mungkin tidak akan bertemu lagi lantaran dekat liburan natal, jadi dia memintanya untuk bermalam ke rumahnya setelah acara kecil kami selesai.

Ehh, tahu-tahunya, kami berhubungan seks di rumahnya. Itu tidak terlalu bagus. Saya langsung merasa sangat bersalah. Saya tidak pernah berbicara dengan Yewen, lagi!

Saya merasa bersalah tentang fakta bahwa kami berhubungan badan lagi di pagi hari, karena saya tidak punya alasan untuk kondisi tidak enak badan sehabis acara.

Saya pikir, saya adalah orang terburuk di dunia.

Saya baku naik dengannya ketika saya sadar. Selama yang kedua kalinya, saya berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi. Tapi saya menyesali pada pacarku dan cintaku Yewen.

Kurang lebih dua bulan kemudian, keadaan saya menjadi sangat rumit gara-gara berkat kejadian gonta-ganti pasangan. Saya menyadari bahwa saya ada bau-bau kehamilan.

Butuh satu atau dua hari untuk tenggelamkan rasa bersalah. Saya harus berurusan dengan semua emosi yang datang dengan kehamilan - yang tidak diinginkan.

Pacar saya, Yewen sangat mendukung ketika saya memberitahu dia tentang kehamilan itu, bahwa saya mau melakukan aborsi. Aborsi membuat rasa bersalah kira-kira seratus kali lebih buruk. Yang bisa saya pikirkan adalah, saya sungguh-sungguh mengacaukan hidup dan harga diri saya terhadap Yewen yang selalu setia dan suportif.

Yewen kaget kehamilan saya karena kami berdua tidur bersama-sama tidak terlalu banyak.

Jadi dia pikir, kenapa sampai saya bisa begini - hamil?

Orang tuaku membiarkan saya. Tidak ada sekata apapun dari mereka tentang kehamilan saya lantaran kakak laki-laki juga sudah terjerumus dalam hal yang hampir sama dengan kasus saya.

Perbedaannya adalah kakak saya sudah berkeluarga yang berselingkuh, sementaransaya masih dalam level berpacaran. Saya skilled dalam dunia selingkuhan. Saya tidak hanya bermalam dengan Yewen, tapi laki-laki diluar pacarku juga. Tidak salah juga, orang tuaku seakan-akan menjadikan kami anak-anaknya stereotip - lonte and aibon.

Sekitar dua tahun kemudian, saya memberitahu pacar saya tentang perselingkuhan saya itu. Saya sudah berpikir untuk mengatakan kepadanya berkali-kali sebelumnya, tetapi kolega-kolega dekatku menyarankan untuk tidak menceritakannya.

Mereka berkata, “kamu tidak akan pernah melihat pria seperti Yewen lagi. Dia tidak berpikir posesif, stalking, dan tukang jaga-jaga kamu. Lebih baik, baginya untuk tidak mengetahuinya.”

Tetapi saya terkejut melihat betapa banyak rasa bersalah itu menampun dan terpendam selama dua tahun.

Pengalaman-pengalaman itu tidak akan hilang begitu saja di benakku. Saya sambil merenungkan kejadian-kejadian sebelumnya.

Pembongkaran api cemburu saya merilis ketika kami sedang dalam liburan. Saya memberitahunya pada malam minggu sementara kami berada di Ita Cafe, Mega Futsal Abepura, Abepura, Jayapura.

Saya mengatakan kepadanya betapa saya merasakan gundah gulana, dan bagaimana hal itu merusak saya. Saya mulai turun kepala saya. Menangis.

Yewen bingung karena kami baru saja makan makanan khas Papua seperti papeda campuran ikan cakalang. Di café tempat kita makan, tidak hanya makanan yang menemani kami, tapi pemilik Ita Cafe, juga bikin speakernya abu naik. Suaranya seperti biasa, khas cafe; santai, romantis, dan menikmati. Mace sepertinya benar-benar memahami keadaan kami karena mace mulai putar lagunya Black Sweet, Kau Aku dan Dia.

Lagunya pas dengan situasi kami. Reef dari lagu ini sungguh mengesankan; “Walaupun Jurang Yang Kau Cipta, Untuk Memisahkan Dia Dan Aku, Tak Akan Ku Dendam Padamu, 'Kan Ku Buat Titian, Untuk Kau Aku Dan Dia”. 

Saat Yewen ingin tahu alasan saya menangis, saya mudah saja bilang ke dia bahwa saya menangis tidak hanya karena saya mengungkapkan perasaan ketidak-respekkan saya kepadamu, tapi saya juga menurunkan air mata sejak lagu ini benar-benar menegur dan seakan-akan tangan fisikmu menampar saya.

Lanjut suara saya terlihat menangis sambil meresapi inti dari lagu tersebut dan membayangkan:

“Meskipun saya membuat jurang, dan mencoba memisahkan antara saya, Yewen, dan laki-laki yang saya berhubungan, Yewen tidak pernah marah saya, malah Yewen adalah bagaikan tukang kontraktor yang menjadikan jembatan yang kuat tanpa patah bagi kami semua.”

Lalu Yewen berkata sambil pegang tangan saya kuat-kuat diatas meja, "saya senang kamu bisa memberitahuku tentang hal itu."

Hebatnya, Yewen oke-oke saja tentang itu.

Yewen beri tahu lagi bahwa, “saya tahu kamu berada di ruang pola pikir yang aneh selama beberapa bulan pertama hubungan kami.” Yewen tahu bahwa saya tidak akan pernah melakukan ketidakjujuran sama Yewen mulai sekarang.

Namun, ada pertanyaan muncul setelah dengar jawabannya tentang, Yewen tahu keberadaan saya saat pertama kali kami berpacaran.

Kenapa Yewen tidak mengingatkan dan menegur saya selama saya lagi bertiduran sama laki-laki lain? Saya berani bilang hal itu langsung ke Yewen sambil bersandar di dadanya.

Yewen jawab, “jika saya tegur kamu dan kemudian ada ketahuan saya berpacaran dengan kamu, saya akan merasakan malu di kalangan Gereja (nama baik saya di Gereja akan turun), terutama kepada kedua orang tuanku. Karena Ortuku menyarankan selama berkuliah, saya dilarang punya pasangan perempuan, jangankan menghamili.”

Lantaran lanjut Yewen, “biaya kuliah, makan-minum tidak jadi kirim dari kedua orang tuaku kalau kedapan saya berstatus pasangan dengan kaum hawa.”

Sekarang saya tahu kenapa dia tidak membongkar keselingkuhanku terhadapnya. Dia takut mempublikasikan ke publik. Apalagi didengar oleh orang tuanya.

Saya beraborsi itu juga di luar pengetahuan orangtuanya dan warga gerejanya.

Saya sangat senang saya sudah mengatakan kepadanya. Saya tidak bisa menangani rasa bersalah lagi.

Awalnya, saya menyesal tidak memberi tahu dia lebih awal sejak dia menerimanya dengan sangat baik. Tapi saya memberitahunya tentang perselingkuhan sesaat saya merasa siap untuk memberitahunya.

Oleh karena itu, saya tidak berpikiran kesal dan tidak memberitahu sebelumnya. Saya membutuhkan waktu untuk mengungkapkannya. Padahal itu adalah salah besar saya.

Saya tidak akan pernah jadi pengkhianat lagi sekarang. Saya tidak ingin disebut pelacur.

Saya berpendapat bahwa pelacur adalah tidak hanya orang-orang yang kerjanya prostitusi semata, di mana imbalannya bisa mendapatkan berupa uang.

Mereka yang kerjanya dunia perselingkuhan juga adalah termasuk pelacur.

Itulah kenapa pelacur dan tukang selingkuh adalah sinonim – beda kata, tapi sama maknanya.

Apakah saya termasuk kategori pelacur?  kelakuan sisi gelap saya selain rajin ke gereja.

Sekali lagi, saya terpana dengan banyaknya rasa bersalah yang saya gendong karena one-night stand - sebuah istilah di mana dua orang memiliki hubungan seksual dan tidak ada harapan membangun hubungan romantis - berpacaran.

Saya menyadari bahwa selama dua tahun, imbalan saya sebagai seorang cewek tukang selingkuh adalah upah borongan kesenangan diri sendiri, which is baik.

Tapi di sisi lain finansial adalah yang utama.

Contoh kasus. Setelah kelas selesai pada suatu sore hari, saya dapat bertemu dengan kakak tingkat saya di jalan raya Abe. Karena dia mau ajak saya jalan-jalan, kami baku tukar no. HP. Besoknya, kakak itu mengajak saya jalan-jalan perbatasan PNG-Indonesia, Skow, Jayapura.

Kakak itu dan teman laki-laki lainnya bersama kedua adik perempuannya datang menjemput saya di depan rumah. Karena saya dan ada teman satu di rumah, saya ajak ikut bersama kami.

Sudah ada teman berbincang-bincang. Pikiran saya puas.

Tetapi saya jalan dengan mereka tanpa memberi tahu Yewen. Tapi Yewen keluar kota pada saat itu.

Dalam hati saya berkata, “tidak perlu bagi saya untuk mengingatkan Yewen kalau saya lagi mau jalan bertamasya.”

Akhirnya,  kakak-kakak menghibur saya dan temanku. Mereka drop kami kembali di rumah.

Pas saya lagi setelah istrahat sedikit karena capek dan mandi pada jam-jam 9 malam waktu Papua, ada pesan masuk di HPku.

Kak itu ajak makan malam dan SMS ke saya: “ade, mari makan kak bayarkan. Kalo mo datang, ambil ojek. Lalu datang saja. Kak kan bayarkan.” Tulisan berikutnya kak kirim alamatnya di area Tanah Hitam, Kamkei, Abe.

Saya terjung kesana. Kebetulan di rumahku makanan habis. Beras ada tapi sayur tidak ada. Ah sudah, jalan saja. Suara kecilku.

Saya kesana menurut alamat yang dikirim. Tiba di tempat makan berdekatan dengan hotel kak itu tinggal. Jam sudah mulai malam. Saya pamit pulang setelah menikmati makanan malam.

Saya pulang ehh, trimsh atas makanannya. Saya bilang saya ke kak. Sa pamit pulang kak.

Sayangnya, kakak saya itu menawarkan saya bermalam di hotel tempat dia tinggal.

Saya bingung. Pilihan apa yang saya tentukan yakni pulang atau tinggal. Kalau saya pulang, malam plus saya adalah perempuan lagi kalau pulang malam-malaman dan tidak ada kendaraan. Diajak antar mobilnya yang tadinya kami pake.

Kak bilang, “mobilnya sewa, jadi sudah diambil pemiliknya.”

Saya terpaksa tinggal. Saya tidak merasakan takut karena kakak angkatan itu dekat betul sama saya apa lagi kami biasanya baku bercanda-candaan.

Namun, malam itu menjadi saksi bisu karena saya tahu bahwa kakak juga adalah seorang ular bagi saya. Saya tidak tolak permintaannya. Saya down selama dia memamerkan gambar Soekarno-Hatta di depan saya.

Kakak juga dalam hatinya mau-mau dengan saya. Ia mengungkapkan hal itu saat kami dalam silent room.

Dia mengungkapkan perasaan dan ketertarikannya kepada saya. Dia berkata kepada saya, “sebenarnya saya suka sama kamu, tapi saya malu mengatakan secara terang-terangan.”  

Dia baru tahu kalau saya berstatus berpacaran. Itu juga karena saya menceritakannya. Sebelumnya, dia sama sekali tidak tahu status saya dengan Yewen.

Setelah dengar cerita tentang hubungan saya dan Yewen, Laki-laki angkat bicara dan lanjut berbumbuhi dengan perkataan rayuannya, seakan menggulingkan kepala saya sampai seolah-olah dia Aiwa saya dan mengatakan:

“Sebelum orang berkeluarga dan bermaskawin, orang itu ibarat berjualan di pasar. Siapasaja bisa beli selama ia adalah masih belum punya pernikahan yang sah meskipun ia dalam berpacaran.”

Oh iya ya? Dalam hati. Karena saya ingat kutipan cinta terkenal oleh penyair asal Inggris, William Shakespeare; The course of true love never did run smooth - perjalanan cinta sejati tidak pernah berjalan mulus.

Saya sudah penjelajahan atau kemesrahan dengan Yewen. Di sisi lain, kata di atas ini mematikan pikiran cinta saya kepada yewen juga.

Momen itu saya memahami bahwa, “teman bercandaan dan teman terdekat bisa saja menjadi teman musuh dekat.” Saya juga tidak percaya dengan orang bilang, “pengalaman adalah guru yang terbaik.”

Setelah saya mengalami rentetan kebiasaan tidak baik itu, kenapa saya tidak bisa membenarkan diri dari pengalaman, dan kemudian saya tidak menghindari berselingkuh: tidur sama orang lain lantaran saya sudah berjanji sambil menangis di hadapan Yewen kalau saya tidak akan melakukan hal serupa lagi.

One-night stand dan semua laki-laki yang saya kena, hampir tidak pake kondom: malapetaka.

Saya tidak hanya was-was pada penularan penyakit seksual, tetapi melakukan hubungan seks tanpa kondom juga bisa menyebabkan kehamilan Memalukan diri saya sendiri dikarenakan saya ada dalam bangku studi, dan hamil di luar nikah.

Yang paling menyebalkan lagi adalah kena penyakit HIV/AIDS.

Tentu dengan jujur, dua-duanya saya sudah kena positif; kehamilan yang kedua kalinya setelah aborsi diam-diam dan kena ciuman HIV/AIDS.

Kehamilan yang terakhir ini, saya kira tidak jadi masalah buat Yewen karena dia tinggal menuggu wisuda saja. Dan barangkali Yewen adalah bapak dari bayi yang ada di perut saya.

Tentunya orang tua senang karena anaknya sudah berujung kuliah, bisa bebas untuk buka relationship dengan perempuan; saya orangnya.

Bisakah kamu bayangkan bagaimana bingungnya jika kamu sebagai cewek hamil tanpa tahu siapa darah asli anak dalam kandunganya dan dapat memilahnya sejauh anda juga berpengalaman seperti saya?

Ini bukan hanya darah Yewen saja! Kalau aborsi, dunia bilang itu hak. Tapi suara minor di kalangan masyarakat lain, aborsi adalah ke-tidak-manusia-an sesuai tradisinya. Sulit meman tuk klik salah satuhnya.

Kehamilan keduakaliku adalah pengorbanan dan pertobatan saya dari kelakuan sabotase dan dunia kegelapan di belakang pacar saya.

Tamat.


Catatan: Tulisan ini sepenuhnya adalah fiksi dan imajinasi belaka.

Feb 18, 2019

Kekasih, Kawan, Tidak Sama Sekali

Yoka - Sentani - Jayapura - Papua Barat/alampapuaindonesia-ig.
Sangat aneh bahwa musim panas itu indah namun semuanya sekarat. Kenangan membuat kita tetap hidup dan membunuh kita pada saat yang sama seperti kapak lupa tetapi pohon selalu ingat.

Hubungan yang di buat oleh anak-anak jaman now atau akhir-akhir ini seperti lelucon. Itu adalah permainan yang dimainkan oleh dua orang sampai mereka bosan. Mereka tidak tahu bahwa cinta sementara ini hanya menghancurkan mereka pada akhirnya.


Hari ini semuanya adalah tentang seksualisme. Seperti nafsu, seks, dan bersikap dingin. Itulah alasan mengapa pria mengejar perempuan di mana-mana dan wanita tidak berbeda, mereka membutuhkan persetujuan terus-menerus dari harga diri mereka dengan menuntut perhatian.


Hanya ada dua alasan utama mengapa orang berkencan. Entah menikah atau putus. Tidak masuk akal untuk menikah ketika kamu bahkan belum cukup dewasa untuk menghidupi dirimu sendiri. Kami berkencan untuk bersenang-senang atau dengan harapan bahwa kami mungkin menemukan yang beruntung dan hal yang paling menyakitkan, menjadi begitu dekat, kelihatannya suram, sakit hati menjadi tak terhindarkan dan mengatasi mereka sulit.


Kita hanyalah orang-orang yang hancur membuat janji-janji yang gagal. Mencoba bahkan melarikan diri dari kenyataan dengan menjanjikan selamanya di dunia di mana bahkan kehidupan adalah sementara.


Begitu kita ingin memulai tidak ada yang benar-benar menang. Kita semua mengalami hari yang buruk dan sakit ketika satu-satunya hati kita tiba-tiba hancur. Jadi, hati kita hancur berkeping-keping menjadi sejuta keping yang membawa musim kesengsaraan dan kesedihan.


Kita tersesat dalam jurang keputusasaan yang tak berkesudahan dan kita tidak tahu ke mana harus pergi karena satu-satunya hal yang kita harapkan tidak ada lagi. Memikirkan - apa yang telah sedang terjadi - adalah racun yang sering kita minum.


Mencoba keluar dari keadaan di mana kita bukan milik siapa pun dan tidak ada orang  yang memiliki kita, meninggalkan kita dengan kesepian. Bersumpah kepada Tuhan bahwa kita tidak akan masuk ke keadaan ini lagi. Kita kompromi dan menekuk lutut kita ketika nafsu menyamar sebagai cinta mengetuk di pintu kami lagi.


Sebuah siklus tanpa akhir dimulai dan kita lakukan kepada orang lain apa yang orang lain lakukan terhadap kita, setelah semua tidak ada yang tahu ke mana perginya hati yang hancur.

Pada kenyataannya mereka tetap tinggal dan menghancurkan hati orang lain dengan cara yang sama seperti sebelumnya.


Hubungan seperti ikatan dan ikatan memang tegang dari waktu ke waktu. Masalah dengan generasi kita adalah bahwa kita berpegang pada sesuatu yang mati dan tidak mungkin karena kita takut melihat orang yang dulu kita cintai lebih bahagia dengan orang lain.


Rasa sakit yang harus kita derita diperkuat oleh kenyataan bahwa kita mengerahkan begitu banyak upaya dan waktu dalam suatu hubungan dan pada akhirnya tidak ada yang keluar darinya. Renungkan bahwa kita memiliki waktu dalam hidup kita, kita mencari yang baik sebagai tanda selamat tinggal ketika kita dibiarkan tanpa ada apa-apa.


Segala sesuatu yang baik harus berakhir suatu hari nanti dan itulah kisah sedih hidup kita. Yang bisa kita lakukan adalah menghargai kenangan yang kita buat dan mengenangnya sampai kita tua dan kelabu. Hal terburuk yang mungkin bisa terjadi adalah bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang salah.


Orang-orang pergi meninggalkan. Nostalgia berubah menjadi debu dan memudar. Yang dapat kita mengharapkan adalah bahwa itu akan berbeda di kehidupan lain karena hidup terus berjalan baik kamu suka atau tidak.


Hari-hari ini sangat umum untuk melihat remaja patah hati dan membuat saya bertanya-tanya di mana nilai-nilai dan pentingnya hubungan diperlakukan seperti lelucon.


Kami membuang teman-teman dan keluarga kami dan mengutamakan cinta kami. Tetapi kemudian kami mengetahui saat itulah cinta itu menyakitkan. Cinta, iman, kepercayaan yang murni harus dibangun di atas fondasi yang menjadi dasar ikatan keluarga kami. Kami semakin tua tetapi kami tidak sadari bahwa orang tua kita juga menjadi kelabu. Mala memperhatikan mereka dan berada di sana untuk mereka - kita melakukan segala yang mungkin yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit bagi mereka. Anak kepala batu!


Manusia tidak kompleks. Kita hanya mukjizat yang menunggu untuk dieksplorasi. Persepsi dangkal kita yang mengaburkan kebenaran sederhana. Setelah semua itu lebih mudah untuk percaya chimera dari angan-angan kita sendiri bahwa kenyataan hidup yang keras. Makanya memang benar, pada saat seorang anak menyadari ayahnya benar, dia memiliki seorang putra yang berpikir dia salah.


Setiap jenis hubungan tidak gampang, yang kita lakukan adalah akhirnya menghancurkan hati kita sendiri, terlalu mencintai orang lain dan diri kita terlalu sedikit, pada akhirnya kesedihan dan berpilu adalah harga yang kita bayar untuk cinta.

Mar 28, 2018

Ulasan Film: The First Grader

http://cinepop.com.br

Film "The First Grader" adalah berdasarkan kisah nyata yang pegang rekor dunia dimana Kimani Ng'ange'a Maruge, (Oliver Litondo) seorang pria Kenya yang pergi ke sekolah dasar (SD) untuk pertama kalinya pada usia yang ke-84.

Maruge, pada saat atmosfir colonial British, dia tidak pernah dapat pendidikan yang layak hanya karena tekanan, intimidasi, oleh penjajah (British) yang berlebihan. Namun demikian, pada tahun 2002, Pemerintah Kenya mengumumkan pendidikan gratis untuk semua orang. Dengan segera, kelas penuh dengan anak-anak muda yang bersemangat untuk belajar. Di sekolah yang dikelolah oleh Jane Obinchu (Naomie Harris), hanya ada 50 kursi untuk 200 siswa. Maruge dengar sekolah geratis itu melalui FM Radio di daerah sekitarnya. Akhirnya, dia berpikir bahwa inilah saatnya mimpi saya yang dulunya sulit untuk injak kaki di gapura sekolah, saya akan bisa mematangkan cara menulis dan membaca.

Keingintahuannya untuk belajar, Maruge harus berjalan ke sekolah kecil di dekat rumah desanya yang terpencil untuk mendaftarkan diri sebagai siswa baru. Dia awalnya berbalik tetapi, diam-diam tanpa gentar, kembali dan bersikeras dia perlu belajar cara membaca. Jane Obinchu (Naomie Harris) – guru kelasnya sekaligus kepala sekolah, dengan enggan setuju untuk mengambil kesempatan pada Maruge dan menemukan ruang untuknya di ruang kelasnya yang sudah penuh. Meskipun dari pihak sekolah tolak dia, dan katakan kepada Maruge bahwa kamu tidak layak untuk belajar di sekolah SD disini, apalagi umurnya tidak semumur dengan anak-anak disini. Dia mempertahankan keinginannya untuk tetap masuk sekolah tersebut. Jane merasa terpukul dengan Maruge saat dia bilang, “saya dengar Pemerintah mengeluarkan keputusan bahwa semua orang bergahak masuk sekolah tanpa biaya apapuan (gratisan)”. Lagi-lagi guru-guru lain termasuk Jane tidak terlalu mau untuk recruit Maruge. Meskippun begitu, Jane dibiarkan Maruge bersekolah dengan anak-anak SD kelas 1. Saat Maruge menyatakan kata-kata kedua kali yang menurut Jane sebagai guru SD mempertimbangkan dua kali kalau kata-kata itu akan membawa peradaban pendidikan Kenya yang penting untuk di agkat lebih tinggi bagi generasi berikutnya yang lebih baik. Maka, Jane dengan bersedih mendengarkan perkataan Maruge, yakni “Kami ini tidak sama sekali jika kami tidak mampu membaca.” Maruge juga bilang bahwa – “kami ini tidak berguna tanpa tidak tahu pegang pinsil.” 
Kekuasaan ada di pena. "Untuk membaca dan memahami, itu sangat penting. Ini adalah salah satu cara untuk menyelesaikan kemiskinan di antara kita. Dan Alkitab ... Saya tidak mempercayai para pengkhotbah di gereja-gereja.
Jane dan Maruge akhirnya membentuk persahabatan yang santai, dengan Maruge melayani sebagai mentor dan Jane angkat Maruge sebagai asisten kelasnya sambil Jane mendorong and memberi pelajaran private tambahan kepada Maruge untuk menjadi orang yang mampu membaca dan menulis karena tujuan maruge adalah mau tau menulis dan membaca dan dia tidak mengharapkan kalau dia mati tanpa tidak tahu baca dan tulis..

Sayangnya, saat pertukaran guru datang, Jane harus pindah sekolah jauh dari tempat dia mangajar. Dia baik hati tetapi baik bagi anak-anak yang ia tinggali, yang semuanya menggemaskan. Ketika guru baru datang di sekolahnya Maruge, anak-anak tidak setujuh; oleh karenanya, mereka tutup gapura sekolah. Mereka mau guru seperti Jane. Maruge, kemudian, memutuskan untuk mengatur dukungan siswa/I SD untuk kepulangannya. Meskipun anak-anak bersorak setiap langkah yang Oliver Litondo (Maruge) sebagai 84 tahun membuat kebebasan, itu adalah kinerja yang tulus Jane sebagai kepala sekolah yang memenangkan kekaguman terbesar mereka. Dia adalah guru yang penuh perhatian, penyayang, sensitif, ramah, dan menyenagkan yang banyak dari mereka dapat ingat dari masa kecil mereka denganya. Individu yang berdedikasi ini adalah pahlawan yang menempa jalan bagi generasi berikutnya. Mereka layak mendapat pujian dan dukungan tanpa henti.

Drama ini menyentuh semua catatan perasaan yang orang harapkan untuk dipukul dan berpikir dua kali karena kesulitan diatasi, pengampunan dikabuli, pelajaran dipelajari dan hati dihangatkan. Tetapi pertunjukan yang kuat dan estetika visual yang dipelopori membantu mengurangi beberapa potensi sentimentalis film.

Saya suka film ini dan saya merekomendasikan Anda untuk nonton film ini.
Trialnya bisa Anda bisa lihat  disini.



DIRECTOR: Justin Chadwick; SCREENWRITER: Ann Peacock
CAST: Naomie Harris, Oliver Musila Litondo, Tony Kgoroge, Alfred Munyua, Shoki Mokgapa, Vusumuzi Michael Kunene
DISTRIBUTOR: National Geographic Entertainment, BBC Films

Kebetulan saya tidak telaah isi dari film ini secara mendalam, kemungkinan tulisan berikut.

Oct 14, 2017

Carolina Cory Kayame, Saat Landas di Airport Enarotali


Whatever we believe about ourselves and our ability comes true for us.” —Susan L. Taylor,  Jurnalis Amerika


x


Carolina Cory Kayame (31) adalah perempuan asli Papua pertama yang berhasi dilabelkan menjadi pilot selain perempuan-perempuan luarbiasa lainnya dalam hal dunia pengemudi kendaraan burung besi (pesawat). Ia telah menerbangkan Pesawat Cesna Caravan PK ICY dari bandara udara Douw Aturure, Kota Lama, Nabire, (yang nama bandaranya adalah saat ini dikecewakan oleh banyak orang karena mereka diberi nama bandara new-person/position in the land punya nama, mereka pikir nama bandara itu seharusnya bandara Karel Gobay sebagai bupati OAP (orang asli papua) pertama 1969-1972 setelah AKBP Drs. Soerodjotanojo, SH.) ke Paniai, Minggu (2/0613). Ia sampai selamat di bandara “Awetako Enaa Agapida”, dalam Indonesia, “Hari Esok Lebih Baik dari Hari Ini”, kalau dalam Ingrris, “Tomorrow is Better than Today” Paniai, Papua.

Ketika Cory Kayame sampai di lapangan terbang Enarotali Paniai, puluhan perempuan berpakaian adat menyambut dia dengan pelukan, ciuman dan tangis.

“Jujur saja, saya tidak tahu harus berkata apa ketika mereka memeluk saya,” tutur Cory anak kedua pasangan Hengky Kayame (sekarang Bupati Paniai)-Anuaria Gobay.

“Saya merasa bangga saya tercatat menjadi pilot perempuan pertama di Papua dan Papua Barat, (dalam sejarah Papua dua provinsi ini jadi satu: WEST PAPUA). Saya yakin jika ada niat baik di hati dan kerja keras, pasti Tuhan akan menolong. Utamakan Tuhan dan tentunya di mana ada kehidupan di situ ada harapan dimana dia diistilahkan idiom Inggris hope springs eternally” ujar Cory.

Lebih lanjut, kata dia, manusia memiliki kecerdasan yang diberikan oleh sang pencipta. Tinggal bagaimana manusia itu mengolah kecerdasan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan sesama. Terkadang, orang merasa bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan, sehingga niat untuk berusaha menjadi tertahan, atau hopeless.

Ayahnya, Hengky, berkisah soal pengalaman kecil Cory. “Sejak kecil Cory takut terbang dengan pesawat. Bila ada goncangan dalam pesawat dia memeluk ibunya,” kata ayahnya.

Niat menjadi pilot muncul sejak Cory duduk di bangku SMA. Tiap kali pulang kampung ke Paniai atau Wamena, dalam benaknya, terekam sulitnya warga bepergian. Kondisi alam memaksa warga untuk menggunakan pesawat. Padahal, ongkos naik pesawat sulit dijangkau kebanyakan warga yang hanya petani.

Pilot perempuan itu membayangkan bila ada warga yang sakit dan tidak bisa dirujuk hanya karena tidak punya uang untuk naik pesawat.

“Saya tidak pernah berpikir akan jadi pilot. Tapi, setelah melihat kondisi Papua yang sulit dan terisolasi, saya berpikir tentang sesuatu yang bisa saya buat. Saya bersyukur orang tua mendukung,” kata alumni SMAN 1 Jayapura (hanya kelas 1) ini.

Lanjut Kory, “Saya percaya perempuan lain di Papua juga pasti bisa. Saya bersyukur, pertama kepada Tuhan dan kepada kedua orang tua saya yang telah mendukung saya. Tidak pernah saya bayangkan jadi seorang pilot. Tapi setelah saya melihat kondisi alam Papua yang terisolasi terutama dari jangkauannya, saya berpikir bahwa saya akan lakukan sesuatu berdampak baik di mata masyarakat Papua, makanya dalam pikirannya terinspirasi dengan kata-kata Hillel the Elder tokoh pemimpin religius terkenal asal Yahudi, yaitu: “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” jika diterjemahkan "If not us, who? If not now, when?.

Perempuan kelahiran 14 Juli 1986 di Wamena itu menapaki jalan panjang sejak belajar di SD Santo Yusuf, Wamena. Selama dua tahun, Cory harus menjalani kelas III di SD Negeri Inpres Hedam Abepura. Dia lalu masuk SMP Santo Paulus Padang Bulan dan SMUN 1 Jayapura. Setelah setahun di SMU 1 Jayapura, dirinya melanjutkan kelas II dan kelas III SMA di Australia.

Setelah lulus SMA di Australia pada 2006, Cory mengikuti kursus bahasa Inggris selama enam bulan. Setahun kemudian, pada 2007, dia diterima di sekolah penerbangan di Lilydale, Australia, dengan tempat training di MAF (mission aviation fellowship). Di tempat itu, dirinya belajar flight training pada 2007-2009.

Akhirnya, setelah mengikuti program teknik mesin selama setahun, Cory bisa mengikuti program test flight pada 2011.


“Saya memulai dari pesawat kecil jenis Cesna 172, Cesna 256, dan Cheroke selama training. Sekarang saya sudah menyelesaikan semua program studi, tinggal bagaimana mengabdi,”kata dia berkisah.

Sumber:






Sep 1, 2017

Baca Buku Kurang Menyenangkan, Betul ka Tra?

"Saya Tidak Baca buku untuk mendapatkan kecerdasan, Saya baca untuk lari dari realita."





Buku disebut sebagai jendela dunia, buku sebagai guru yang baik, buku sebagai pelita ilmu, tak ayal hanya sebuah mitos. Mitos buku telah ditanamkan pada benak manusia sejak bayi. Kita terlalu lama menerima doktrin akan buku yang begini, yang begitu. Buku yang katanya dapat mencerdaskan manusia adalah angan-angan yang terlalu membosankan.

Berdasarkan hasil survei UNESCO pada tahun 2012 menunjukkan indeks tingkat minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,01%. Bisa diartikan, hanya ada 1 dari 1000 orang yang masih mau membaca buku. Satu dari 1000?  Berarti jika kamu suka membaca buku, maka ada satu batalion orang yang waras. 999 orang sisanya selain kamu sudah menyadari bahwa membaca buku seperti menyiram tanaman saat hujan. Buat apa? Percuma. Dengan rasio ini, berarti di antara 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250.000 orang saja yang masih minat membaca. Sedangkan pengguna internet di negeri ini telah mencapai angka 112 juta jiwa pada 2017. Lihat, dengan pengguna internet sedemikian banyak, saya yakin dalam 1-2 tahun lagi generasi muda Indonesia akan membawa negeri ini kembali menjadi Macan Asia. ingat itu. 

Saya punya fakanya kalau membaca buku adalah percuma. Dengan minat baca yang demikian rendah, Indonesia sekarang bisa menjadi salah satu negara berkembang yang cukup pesat. Buktinya, semakin banyak orang-orang pintar yang duduk di dalam ruang paripurna, angka kelulusan siswa sekolah mendekati 100%, para balita semakin pandai mengoperasikan teknologi digital (gadget), semakin banyaknya orang dengan lapisan gelar deppan belakang, dan masih banyak lagi. Ingat, itu semua diraih dengan 0,01% minat baca. Artinya, buku tidak hebat-hebat amat seperti yang digemborkan. 

Selain itu, buku bukanlah hal yang praktis. Juga mahal. Anggaplah rata-rata sebuah buku dengan harga Rp50.000. Dengan nominal sekian, lebih baik membeli pulsa data (interNET). Bahkan masih ada uang kembali barang seribu-dua ribu. Juga tidak perlu jauh-jauh mengunjungi toko buku, warung sebelah pun menjual pulsa. Dari harga dan efisiensi waktu saja, sudah terlihat jelas betapa lemahnya buku. Ilmu di internet jauh lebih banyak, lebih mudah didapat. kasih tahu queen Google saja, kamu butuhkan adalah hanya kata kuncu, Tidak perlu memegang buku berlembar-lembar dengan berat sekian kilo, cukup modal jempol, ribuan ilmu sudah dapat diakses. Belum lagi dengan kemampuan copy-paste jika sedang membuat tugas atau dalam pekerjaan. 

Buku adalah benda yang sangat membosankan, terlebih jika kita berkunjung ke toko buku atau perpustakaan, sangat menyeramkan, karena keadaan di dalamnya yang sangat sepi. Isi dari buku hanyalah deretan huruf, huruf, dan huruf atau ang- angka dan angka. Apa menariknya? Belum lagi kebanyakan buku hanya terdiri dari warna hitam dan putih. Sangat jauh dibandingkan dengan smartphone yang lebih atraktif dan menghibur. Apalagi jika sedang bosan, proses mencari ilmu bisa disela oleh update status atau stalking sosmed, tapi lebih ke-membagi kebahagiaan kepada teman-teman di sosial media. kalau Buku? Mana bisa seperti itu. Yo too??

Di negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Belanda, siswa SMA diwajibkan untuk menamatkan/harus diselesaikan baca buku sekitar 20 judul buku sebelum mereka diluluskan oleh sekolah. Sedangkan di Indonesia, semenjak Pak Harto belum disunat hingga kini, tidak ada kewajiban dari sekolah atau pemerintah kepada siswanya untuk menamatkan bacaan. Saya jadi kasihan kepada anak-anak di Eropa sana. Betapa membosankannya hidup mereka harus dihabiskan dengan membaca. Negara-negara dengan sistem pendidikan yang konservatif. Berbeda dengan para anak muda di Indonesia yang sudah diberikan kemerdekaan sejak dini. Terbebas dari belenggu buku yang membosankan.

Lihat bagaimana bahagiannya anak-anak muda di Indonesia saat wisuda atau tamat dari institusinya. Maka bagi saya, wajarlah mereka yang baru saja lulus sekolah lantas merayakan dengan corat-coret seragam. Itukan feeling happiness. Tidak seperti anak-anak di Eropa sana yang kehidupannya menyedihkan karena ranselnya selalu berat dengan buku-bukuan. Yang penting lulus. Kuliah.

Kurangnya minat baca bukan lantaran kami ini miskin lantas tidak bisa membeli buku. Perlu ditekankan. Kami mampu-mampu saja jika harus membeli buku, tapi toh buat apa? Baik, saya buktikan bahwa penduduk Indonesia rata-rata mampu untuk membeli buku. Dalam satu bulan untuk memperoleh informasi, anggap saja rata-rata orang Indonesia menghabiskan Rp100.000 untuk anggaran pulsa smartphone, lalu Rp300.000 untuk membayar siaran tv kabel, lantas Rp500.000 untuk membayar tagihan internet. Lihat? Kata siapa orang Indonesia miskin sehingga tidak mampu membeli buku? Bahkan coba saja kamu ke kolong jembatan, atau menengok ke dalam rumah-rumah kardus di bantaran rel kereta, mereka semua mengenggam ponsel. Bahkan ponselnya pintar. Saya tekankan, bukannya orang Indonesia tidak mampu membeli buku. Hanya saja buat apa? itu fakta saya sendiri lihat mata kepala saya di Jakarta. saat saya lagi naik Go-ride, di per4an keadaanya traffik maka sat itu mas ojek diperhentikan sambil tunggu kemacetan redah saya lihat ada beberapa homeless dipegani HP new release. kalau saya bilang HP new release, tentu anda paham. Kita kan generasi milenium 1996 sampai sekarang. masa Ko tidak tau tu!

Buku itu kuno, mitos, sekali lagi. Jika ada survey atau lembaga yang menyuarakan wajib membaca buku, saya bisa tekankan, itu adalah upaya pelemahan bagi penduduk Indonesia. Negara-negara Barat yang sedang mengalami krisis tentu iri melihat kecanggihan penduduk Indonesia, yang bahkan bayi bisa mengoperasikan telepon pintar. Maka, mereka menggaungkan wajib membaca agar pola pikir penduduk Indonesia kembali mundur. Logikanya, buat apa diciptakan teknologi yang sedemikian canggih sehingga bisa memudahkan manusia untuk mendapat informasi, jika masih harus membaca lembaran-lembaran kertas? Kuno. Oh Iya ini yang PENTING ini! lagi, buku yang notabene menggunakan kertas adalah bentuk dari penghamburan sumber daya alam (pohon). Mau botak apa itu, kita butuh go green. 

Sebenarnya pemerintah Indonesia sudah menyadari akan kesia-siaan fungsi buku sejak tahun belakangan silam. Pemerintah telah menyadari bahwa buku adalah bom waktu yang dapat meledak kapan saja dan membawa Indonesia ke dalam masa kegelapan. Lihat bagaimana pemerintah sempat membakar buku-buku para sastrawan, menyita, atau dilarang terbit. Lihat juga bagaimana cara pemerintah Indonesia melarang dan membubarkan diskusi-diskusi tentang buku dan bedah buku. Contohnya, Diskusi dan bedah buku berjudul ‘Islam Tuhan Islam Manusia’ yang digelar hari ini di IAIN Surakarta mendapat pengawalan ketat aparat gabungan Polri dan TNI. Juga, beberapa mahasiswa Papua di Yogyakarta selenggarakan launching, sekaligus bedah buku berjudul “Papua Versus Papua: Perubahan dan Perpecahan Budaya” yang ditulis oleh I Ngurah Suryawan, Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Saat acara berlangsung, 15 Orang Reserse (mata2 polisi) didatangi dan membuat mereka trauma.                                         
Belakangan, perpustakaan nasional mendukung pemerintah untuk memusnahkan beberapa buku. Baguslah, pemerintah kita semakin cerdas menghadapi bahaya laten yang ditimbulkan oleh buku. Setelah tidak mewajibkan para siswa membaca buku, kini buku-buku mulai dibakar. Sebentar lagi. Hanya sebentar lagi Indonesia memasuki masa keemasan seperti yang dijanjikan oleh kitab Jayabaya.     


Terbaru, World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University tahun 2016 menyebutkan bahwa peringkat literasi Indonesia berada pada posisi 60, dari 61 negara yang diteliti. Indonesia satu tingkat di atas Bostwana.

References: 
1. http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia


2. http://gobekasi.pojoksatu.id/2016/05/19/survei-unesco-minat-baca-masyarakat-indonesia-0001-persen/
3. https://bukuohbuku.wordpress.com/2008/07/27/acara-bedah-buku-papua-irian-barat-berakhir-rusuh/
4. https://www.rappler.com/indonesia/169376-polisi-kawal-diskusi-buku-iain-surakarta
5. https://sapusuara.blogspot.com/2017/08/launching-bedah-buku-kami-didatangi-15.html




Aug 13, 2017

PerSAMAan yang Mengharmonikan

Source: google/image/persamaan
Nopjr/Inspirasi - Hitam dan putih adalah warna yang paling berbeda, contoh lainnya adalah sama seperti air dan api. Memang berbeda, tetapi mengapa harus mencari sebuah perbedaan? Bukankah perbedaan adalah bagian dari persatuan? Bagaimana ada persatuan jika tidak ada perbedaan? Persatuan muncul karena adanya sebuah harmonisasi dari perbedaan, termasuk hitam dan putih. Contohnya? Lihat saja kutipan Tionghoa:  Yin dan Yang adalah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain.
Kata lain dari kutipan ini adalah meman manusia bisa mendiskripsikan hanya ada dua yakni, baik dan buruk. Orang yang dianggap baik belum tentu dalam inward/batinnya sebaik outward/sebelah luar sementara orang yang dianggap jahat belum tentu sejahat spiritualnnya. Jangan Anda dan saya berpikiran sempit (narrow-minded) menilah orang justru karena dia lakukan baik jadi pasti kita menyimpulkan dia adalah seorang baik adanya. Tra da, pasti ada salahnya karena kamu mempunyai kesempurnaan diatas rata-rata orang baik pun tentu orang tersebut ada celahnya (buruk) itulah sebabnya dunia ini orang ada hanya jahat saja tidak baik dan ada orang baik saja pun tidak baik kelihatannya, yang jelas ada campur membaur itu baru kelihatannya akan lebih menyenangkan. 
Kalo begitu mari kita sedikik telaah dari tuts-tuts piano! Mereka terdiri dari dua warna: hitam dan putih. Dua kombinasi warna yang bersatu. Bagaimana bisa tercipta nada-nada yang indah pada piano jika hanya tersisa tuts putih saja? Dan bagaimana jika hanya ada tuts hitam? Bukan nada-nada yang indah dari hitam dan putih menciptakan harmonisasi nada yang indah? Lalu apa gunanya mempertajam perbedaan jika pada akhirnya hanya memecahkan persatuan? Buat apa mempertajam perbedaan jika akhirnya hanya akan membuat jurang tanpa jembatan? Memang berbeda, tetapi satu.

Kalau kamu memainkan hanya putih melulu, apakah kedengarannya baik untuk di dengar oleh pendengar dan audience sekalipun? Atau sebaliknya? Anda dan saya jangan bikin inti hanya karena gara-gara perebutan arti Pancasila/Garuda. Ingat Garuda punya kita semua tidak tarik kesana-kemari dia (garuda) ingin kita bersatu sebagaimana arti yang dituangkannya. Tu saja mo!

Lalu bagaimanakah dengan hidup kita? Apakah kerap kali kita mempertajam perbedaan dan memecahkan persatuan? Ingatlah bahwa perbedaan bukanlah alat perdebatan yang bisa dipakai merusak persatuan!
Mari belajar dari piano, meskipun tuts nya berbeda, tetapi bisa menciptakan melodi persatuan yang indah jika dimainkan oleh pemusik yang tepat. Dan kitalah seharusnya Sang Pemusik itu, yang tidak sembarangan memainkannya, tetapi menciptakan sebuah harmoni. Hasilnya kita puas dengan iringan suaranya. Puans hidup kita disekitarnya.

Perbedaan itu indah. Jika kita tidak suka dengan perbedaan, kita jangan sekali-kali lontarkan suara ketujuh pelangi di langit itu indah saat kelihatan. Mari kita membawa pesan damai, mempererat persatuan, menjunjung perbedaan, dan menjaga kesatuan satu sama lainnya.

Kamu Indonesia saya papua: tidak
Kamu Kristen saya islam: tidak
Kamu miskin saya kaya: tidak
Kamu china saya melayu: tidak
Kamu OPM saya TNI/POLRI: tidak

Jawaban hanya #1 dari seluruh tulisan artikel ini: Equality/Persamaan

Jun 29, 2017

Selamat HUT Pak Ahok; Seharusnya Jakarta yang Beri Ahok Kado

Seharusnya ko (Jakartarian yang beri Ahok kado)
Ahok HBD's cake/http://lampung.tribunnews.com


Kemarin, 0-H (exact day by Ahok’s birthday) 29 Juni 2017, mantan gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama atau lebih akrab dipanggil Ahok berulang tahun yang ke-51.  Perayaan hari ulang tahunnya yang silam tidak sama dengan tahun ini, beliau merayakan hari jadinya di dalam 'markas brimob'. Pasti suasananya berbeda. Pasti rasanya tidak sama seperti ulang tahun beliau yang sebelumnya. Let’s say, ulang tahun kali ini Ahok jauh lebih indah. Walau fisiknya tertahan di markas brimob, tapi bunga, surat, ucapan, kue ulang tahun serta barang-barang lain menjadi kado manis baginya di dalam suasana disana. Masa tahanan 2 tahun kedepan, tidak perluh diberatkan bagi beliau, justru dukungan bagi beliau jauh lebih deras ketimbang saat dirinya masih menjabat sebagai gubernur DKI, apa lagi kalau orang-orang hebat yang hatinya tercurah dan memperjuangkan demi kehidupan masyarakat yang tentram, umat Tuhan selalu mendoakannya. Hasilnya, ada dua pilihan yang bisa beliau pantas untuk mendapatkan hasil nanti setelah Ahok keluar dari penjara yakni: jabatan (Presiden) atau hadiah (Nobel Prize). Kalau tidak jadi Presiden sebab ada kutipan dari pemimpin sekaligus presiden pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela sekali katakana, “In my country we go to prison first and then become President. Nelson Mandela” …… who knows?

Pace mace, kawan-kawan, mba-mas-mas, sadarkah kalian berapa banyak nilai karakter good politic yang benar sudah beliau mengajar kepada kita (all indonesians) pada umumya. Sadarkah kalian segenap  mba-mba dan mas-mas DKI (ibu kota Indonesia) kado yang Ahok beri untuk kamu warga Jakarta? Bukankah Ahok yang berulang tahun? Mengapa beliau yang memberi kado? untuk siapa? Mungkin sebagian besar dari kalian tidak sadar bahwa beliau sudah memberikan gift terindah di kota kita DKI (Indonesia pu ibu kota) selama masa kepemimpinannya. Walau bukan dari pundi-pundinya sendiri, namun semua kado ini adalah hasil pemikirannya (hasil karyanya). Let’s look at satu-per satu kado dari Ahok untuk DKI, seperti observer dari kami orang timut Indonesia.

(1). RPTRA Kalijodo. Tempat yang tadinya adalah 'pusat neraka' di Jakarta dirubah menjadi taman yang indah untuk bermain bagi warga Jakarta. Dulu kata orang atau biasa keluar setiap media-media, tempatnya meeting the worst things dan orang tua mana yang mengizinkan anaknya bermain di kawasan Kalijodo dan sekarang, orang tua mana yang melarang anaknya bermain di Kalijodo? RPTRA Kalijodo saat ini layak untuk bermain, ada area skateboard, jogging, atau untuk sekadar bersantai di sana.

(2). Berkurangnya titik banjiran. Lihat saja sebelum Bapak Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI 2012, kata 'banjir' seakan sudah menjadi kata wajar ketika musim hujan datang dan Jakarta seakan digebrak bahwa banjir harus dihilangkan atau setidaknya dikurangi. Dan ketika Pak Jokowi naik jadi Presiden, lalu Ahok menggantikan beliau, Ahok meneruskan tugas berat itu. Saat ini, sampai terakhir kali Pak Ahok duduk di kursi gubernur, titik banjir berkurang hingga hampir 80%-90%,  Tribunnews.com

(3). Berkurangnya kawasan kumuh. Penggusuran menjadi teman akrab bagi lawan politik Ahok. Semakin Ahok banyak menggusur, semakin senang lawan politik beliau. "Bersama saya tidak akan ada penggusuran.", kurang lebih begitulah kata lawan politik Ahok. Tapi, bagi yang mengerti arti pembangunan berkelanjutan, penggusuran ini seharusnya didukung penuh. Penggusuran tidak dilakukan dengan sembarangan. Sudah dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang. Bangunan di bantaran sungai, di daerah jalur hijau, layak digusur, layak dibongkar, demi kepentingan kota Jakarta. Inilah kontroversi yang Ahok buat. Pembenci Ahok kebanyakan datang dari warga yang rumahnya dan tempat tinggalnya digusur. Padahal, Pemprov DKI yang dipimpin Ahok pun sudah sangat baik, menyediakan hunian pengganti yang jauh lebih layak daripada tinggal di pinggir sungai, yaitu rusun-rusun yang sudah dibangun. Kompas.com.  Tra puas ka?

Masih banyak gebrakan dan inovasi yang Ahok buat untuk kota Jakarta. Namun, diatas adalah beberapa hal yang cukup signifikan bagi kemajuan Jakarta hingga beliau terpaksa meletakkan jabatannya. Walau, fisiknya tertahan, namun beliau sudah mengukir sejarah indah dan memberi kado manis bagi warga Jakarta, terlepas dari para pencinta maupun pembenci Ahok. Di fitnah dan dihujat bagaimana pun, ukiran sejarah yang beliau buat tidak akan pernah pudar.


Pak Ahok ko tra kosong (luar biasa) khusus buat seantero sipil DKI Jakarta.  Pak untuk setiap kado yang ko beri untuk mereka. Ko yang ulang tahun, tapi ko sudah beri kado terindah untuk mereka dalam masa kepemimpinanmu di Jakarta. Ingat pak: “bahwa kegagalan adalah sebuah event, tidak dari orang”. Selamat ulang tahun, Pak BTP Ahok, Tuhan jaga selalu.

May 7, 2017

Penyesalan: Paniai Berdarah, Police's Christmas Gifts

Orang yang hidup dalam penyesalan tentang masa lalunya, tidak menarik untuk menjadi teman seperjalanan menuju masa depan. (Mario Teguh)


Anak dari Malang, Jawa Timur, Dani (7 tahun) berebut baju dengan kakak tirinya, Dina (8 tahun). Gara-gara sehelai baju, mereka berselisih dan tidak ada yang mau mengalah. Namanya anak-anak, kukuh dengan keinginannya. Melihat hal ini, ayahnya yang bernama Deny, tampak kesal dan menjadi emosi melihat anak-anaknya bertengkar.

Entah setan dari mana, tiba-tiba ayahnya dengan penuh  emosi langsung mengambil sepotong bambu. Lalu, Dani, anak laki-laki yang masih berusia 7 tahun ini, dihajar dan dipukuli berkali-kali dengan bambu. Terus dipukuli dan dipukuli sekenanya di tubuh anaknya ini. 

Ayahnya ini benar-benar sudah gelap mata! Darah yang mengucur di tubuh anaknya sama sekali tidak mampu membuka mata hatinya. Ayahnya semakin beringas dan kalap ketika ayunan bambu terus dan terus menghantam tubuh anak yang masih berusia 7 tahun ini!
"Yah, saya minta maaf...," dengan lirih Dani yang tergeletak berkata kepada ayahnya setelah habis dipukulinya.

Kemudian, dengan suara sangat pelan, Dani meminta es krim. Setelah mencicipinya, Dani menghembuskan napas terakhir. Dani tewas di tangan ayahnya!
Melihat kenyataan ini, ayahnya menyesali atas perbuatannya. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, penyesalan ayahnya sudah terlambat. Kisah nyata ini terjadi di Kota Malang pada tahun 2015 yang dimuat di Metrotvnews.com.

Andy Noya, pembawa acara Kick Andy di Metro TV, pernah mengalami penyesalan selama hidupnya. Dalam buku Andy Noya, "Kisah Hidupku" yang ditulis Robert Adhi Ksp, diceritakan bagaimana Andy Noya menyesali sebuah permintaan orangtuanya yang diabaikannya.

Pada tahun 1979, Andy Noya bersama orangtuanya tinggal di Irian Barat (sekarang Papua). Selama di Irian Barat, hidup Andy dan orangtuanya sangat kekurangan. Tinggal di losmen sempit yang masih berlantai tanah merah.

Pekerjaan ayah Andy pada waktu itu sebagai montir mesin tik. Semakin hari order servis mesin tik semakin sepi. Ditambah lagi ayahnya kini sakit-sakitan.

Suatu hari, Andy ingin menonton Sarung Tinju Emas, olahraga tinju yang sangat digemarinya. Tetapi entah kenapa, sore itu ayahnya tiba-tiba melarang Andy pergi. Ayahnya meminta agar Andy di rumah saja menemani ibunya.

Andy kecewa dan marah! Tidak biasanya ayahnya bersikap seperti itu. Andy bersikap tidak mau mengalah bahkan bersikukuh menonton tinju dengan cara membujuk ibunya agar diperbolehkan.
Akhirnya, ibunya dengan berat mengizinkan. Andy segera bergegas keluar rumah. Namun ketika Andy baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ibunya berteriak panik.
" An, papi, papi, tolong!"

Andy kaget, kemudian berbalik dan langsung menerobos pintu kamar ayahnya.
Dilihat ayahnya sudah tersungkur di lantai. Andy kemudian menolongnya. Mata ayahnya menatap Andy dalam-dalam, mulutnya komat-kamit seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Pada saat itu juga ayahnya meninggal di pangkuan Andy!

Dalam buku itu, Andy menulis, "Kalau ada yang masih kusesali sampai hari ini, ayah pergi dalam kondisi kami sedang bertengkar...."

Ahli kimia Alfred B Nobel (1833-1896)  asal Swedia, seorang penemu dinamit, mengalami juga penyesalan dalam hidupnya.

Pada tahun 1866, Nobel menemukan bahan peledak yang berfungsi untuk pengeboran, peledakan batu, pertambangan, dsb. Bahan peledak ini dinamainya dinamit. Bahkan kemudian dinamit ini memiliki detonator, alat pemicu ledakan.

Penemuan dinamit  ini mengilhami pihak militer untuk dipakai dalam perang. Faktanya memang dinamit dipergunakan sebagai senjata perang yang membunuh ribuan manusia di muka bumi.
Maka menyesallah Nobel atas penemuannya ini. Penemuan yang disalahgunakan yang membuat banyak orang menderita.

Akhirnya, dalam surat wasiat Nobel yang dipublikasikan pada tahun 1888, ia memberikan sebagian hartanya untuk dipergunakan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan perdamaian di dunia. Dari sinilah tradisi penganugerahan Hadiah Nobel yang berlangsung hingga sekarang!

Saya sebagai anak asli Paniai – Papua, saya selalu ingin tahu dengan kisah-kisah seperti contoh diatas yang tidak jauh berbeda dengan kisah tragedi (Paniai berdarah) Police’s Christmas gift.

(*)Letusan senjata diiringan jatuhnya puluhan warga akibat terbembus peluru di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Ibu Kota Kabupaten Paniai, dua tahun lalu, 8 Desember 2014 sekitar pukul 10:30 waktu setempat, menyisakan duka hingga kini. Sebanyak 18 warga sipil terluka. Empat siswa SMA dan seorang petani menghembuskan nafas terakhir. Tanggal itu, tak akan hilang dari benak masyarakat Paniai. Dihari naas tersebut, mereka kehilangan sanak keluarga. Maut dengan perantara timah panas, entah siapa pemiliknya, dipaksa menjemput mereka.

Alpius Youw (17) siswa SMA YPPK Epouto, Yulian Yeimo (17) siswa SMA YPPGI Enarotali, Simon Degei (18) siswa SMA Negeri 1 Enarotali, Alpius Gobai (17) siswa SMA Negeri 1 Enarotali tergeletak tak bernyawa. Selain keempatnya, Abia Gobai (28), petani dari Enarotali juga dijemput mau meski sempat dirawat di RSUD Madi, Paniai.

Beberapa korban ini adalah teman sebaya saya. Police’s Christmas gift seharusnya tidak seperti itu. Maksud saya kalau berikan kejutaan buat mereka janganlah training kayak ateis yang tidak tahu nama Tuhan sama sekali. Kan anak-anak SMA, mereka merayakan dengan sorak-sorai di pondok Natal mereka, sedangkan Aparat datang malam-malam tanpa lampu lagi.

Meman itu hak dan kewajiban anda sebagai penjaga dan pelayan masyarakat malah Aparat punya pikirannya kembali ke new-born. Tidak tahukah Anda bahwa Hari besar itu harinya Anda untuk mengamankan?bukan do bad things.

Penyesalan tadi akan diukir pelaku-palaku di Paniai berdarah 3 tahun silam.

Makna penyesalan

Psikolog Graham Loomes dan Robert Sugden mengemukakan tentang Teori Penyesalan (Regret Theory). Teori tersebut mengatakan bahwa penyesalan terjadi karena berbedanya antara yang diharapkan dengan kenyataan yang diterima.

Menurut Marc Muchnick dalam buku No More Regrets! Create  A Better Tomorrow Today (2011), disebutkan bahwa (1) penyesalan berkaitan dengan segala hal yang telah terjadi, namun kejadian tersebut sama sekali tidak diharapkan. Sebaliknya, (2) mengharapkan sesuatu hal terjadi, tetapi malah tidak menjadi kenyataan.

Kedua poin ini memiliki sisi yang sama, yaitu kegagalan. Gagal menolak kenyataan yang terjadi, gagal pula mendapat yang diingini. Hasilnya rasa kecewa yang berujung penyesalan.
Dari keempat kisah nyata Dani, Andy Noya, Alfred Nobel, dan Paniai Berdarah tampak terlihat adanya penyesalan dan rasa bersalah. Mereka menyesali apa yang sudah terjadi. Akibatnya, timbul rasa bersalah pada diri sendiri.

Rasa bersalah

Psikolog Clyde M Narramore dari Columbia University membagi dua jenis rasa bersalah, yaitu rasa bersalah obyektif dan rasa bersalah subyektif. Rasa bersalah obyektif terjadi karena melanggar hukum. Sedangkan rasa bersalah subyektif terjadi karena timbul rasa bersalah pada diri sendiri.

Narramore juga membagi rasa bersalah dalam beberapa karakteristik, di antaranya perasaan depresi (feeling of depression), sebuah perasaan bersalah terus-menerus yang menyalahkan diri sendiri. Kemudian ada yang disebut penghukuman diri sendiri (self-condemnation), terus-menerus mengutuk diri sendiri karena telah melakukan kesalahan.

Penyesalan dan rasa bersalah memang sulit dipisahkan. Tetapi menurut psikolog Agustine Dwiputri, penyesalan tidak selalu sama dengan kesalahan. Justru kita bisa belajar dari kesalahan yang dilakukan, artinya tidak perlu timbul rasa sesal. Kompas.com/psikologi

Penyesalan benih depresi

Sejauh mana penyesalan yang diidap seseorang tergantung karakteristik masing-masing individu. Apabila seseorang memiliki sifat optimistis, biasanya tidak mudah larut dalam penyesalan.
Menyesal ya, tetapi segera memperbaiki diri agar tidak mengulang yang sama. Sebaliknya, yang memiliki sifat pesimistis, biasanya mudah larut dan bisa berkepanjangan tanpa akhir yang berujung depresi.

Berikut adalah dampak penyesalan berkepanjangan yang akan merugikan diri sendiri.
Stress (perasaan tertekan dan bersalah), Trauma (perasaan takut bila menghadapi hal yang sama), Menyalahkan diri sendiri, Menyalahkan orang lain, Menyakiti diri sendiri, Tidak memiliki semangat hidup, Timbul berbagai penyakit, Hubungan sosial rusak (menarik diri dari pergaulan), Sering putus asa, Tidak percaya diri, Gangguan mental yang disebut depresi. Di kutip dari berbagai sources.

Mengatasi penyesalan

Penyesalan memang datang selalu belakangan. Tetapi, menyesali peristiwa yang sudah terjadi dan tidak bisa diulang kembali, merupakan perbuatan yang sia-sia.
Cara untuk mengatasi penyesalan adalah berani menghadapi kenyataan, dengan demikian bersikap optimistis dan berpikiran positif.

Menurut psikolog Agustine Dwiputri yang dikutip dari Kompas (9 April 2016) dan juga dikutip dari berbagai sumber, cara mengurangi penyesalan, yaitu:

1. Bebaskan diri dari ikatan penyesalan dan miliki keberanian untuk mengambil arah baru dan mengubah sekaligus menghentikan hal-hal yang merugikan diri sendiri. 2. Tidak mengulangi kesalahan yang sama atau tidak lagi melakukan perbuatan yang berujung penyesalan. 3. Berdamailah dengan diri sendiri. Bebaskan cengkeraman ikatan emosional masa lalu yang membebani dan menyiksa diri sendiri. 4. Yakini dan miliki kepercayaan diri mampu mengatasi situasi serta yakin mampu menghadapi tantangan hidup masa depan. 4. Jangan selalu mengeluh dan menyalahkan orang lain. Saat mampu berhenti mengasihani diri sendiri maka perasaan menyesal akan mereda. 5. Hindari orang-orang yang hanya "meracuni" saja, yang hanya membuat hidup menjadi pasif. Sebaliknya, bergaullah dengan orang-orang yang berpikiran positif, optimis, selalu memberi semangat. Sehingga hidup menjadi termotivasi, percaya diri, bahagia. 6. Yakini masalah apa pun pasti berlalu. 7. Dekatkan diri dengan Tuhan dan mohon pengampunan-Nya, sehingga jiwa menjadi tenang. 8. Jadikan penyesalan ini sebagai pembelajaran hidup.


* Saya tidak menyimpulkan penyesalan atas penembakan/pembunuhan dari Aparat RI terhadap masyarakat Paniai. Kejadian seperti ini lebih ke arah pengampunan dari religius.