Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Jul 22, 2018

Amadi, Please Give Me Your Last 5



Amadi,
I always send you a lot of texts to you,
Tell me why you don’t reply my messages

Amadi,
I always contact you more than one,
Describe me why you don’t call me back

Amadi,
when we met at the first time, I told you I am not a strong man,
but why you committed to love me

*Amadi,
Again, you know I am not a such gentleman 100%ly,
but why you missed me from the beginning

And…!!!

Later on,
you escape from me

Later on,
you divide our two hearts and you break down our two wings between us
what is going on with you, Amadi?

Amadi,
Did not you get me with your deeper heart? Amadi?

Even you are now with my other friends or other guys,
I needed you the most is just telling me, “I want to unplug our connectional relationship.”

So that…!!!
Our world will not beep and notify in my feelings and yours anymore

If Amadi really thinks via smart-phone is feeling heavy to say good bye,
Amadi can send your answer through your close friends
because I am curious to hear your last sentences

I am unsatisfied as long as Amadi does not give me Five
I am unhappy if we do not lean our heads on each of our shoulders in 59 seconds
and I am unable to live before our tears is going down from our 4 eyes to wet our shoulders

Note:
         * Amadi means the 4th daughter is in the family - Mee Paniai - Papua
       
Poem by Nopjr

Jun 30, 2018

Apiye telah pergi

Moana/Pacific Islander/conceptartworld

Apiye telah pergi!


Apiye pergi

dari hidupku

Aku telah salah

menyalahkan

Dan aku tidak benar

Aku tidak bisa hidup tanpa cintamu


Dalam hidupku

Hanya ada ruang kosong

Segala mimpi-mimpiku hilang

Aku buang

Maafkan aku Apiwau



  Apiwau, maukah engkau mengobati hatiku

Hatiku  adalah milikmu

Apiwau, maukah kau memaafkanku


Melihat semua apa yang telah aku lakukan padamu




Rasanya sangat sulit untuk melanjutkan hidupku


Aku sangat merindukan mu, hai cinta ku, Apiwau


Kembalilah dalam pelukku

Aku sangat kesepian


Aku memohon padamu

Berlutut padamu

Maafkan aku gadis (Apiwau)



Note:
        Apiye atau Apiwau adalah dalam bahasa daerah Paniai yang berarti gadis atau perempuan dewasa.


@Auburn, WA.
 

Sep 29, 2017

Kami Tidak Seperti Kamu, AINAN NURAN?


Source: daun Bungkus di Ambroben Biak/https://papuansphoto.wordpress.com

Kami tidak seperti kamu, AINAN NURAN?
Kami hanya tamat edukasi dibawah rata-rata yang pernah kamu raih
Kamu seolah-olah sudah ada di atas gunung Carstensz Pyramid, Ainan?
dimana Ainan memandangi ke seluruh pelosok Papua
yang pikiranmu hanya ada kamu sendiri tanpa ada di sekitarmu, atau?
ada di lereng Carstensz, bahkan kamu tiadakan di dekatmu Pencipta kita.

Setauh kami, Ainan? kalau kami masak sesuatu diatas kuali, sebelum angkat, kami biasanya rasa dulu apakah sudah masak atau mentah.
Oh iya Ainan, kami juga biasanya membaca teks yang ditulis oleh guru-guru kami di sekolah tanpa mentelaah isi tulisan itu apa.

Kami dan kamu, Ainan, tidak selevel pendidikannya tapi kamu justru sama dengan kami?
Ainan… data-data research yang kamu bacakan itu tidak seperti yang kamu dipandang dari gunung cartensz ini, BECAUSE all of those are out of the BOX,
Kalau kamu meman terpelajar mungkin kamu akan tolak membacakan
Kalau kamu meluangkan baca jejak sejarah West Papua, tentu dengan keterpelajaranmu akan sinkronisasikan dengan keyakinan/intelektualitasmu dan pada akhirnya kamu akan sadar dan tolak membacakan isi teks itu.

Nara juga sama saja deng kamu, Ainan?, tahun lalu, Nara membungkusi kata-kata dengan pepatah “satu jari menunjuk ke depan dan empat jari menunjuk diri sendiri”. Dia tak sadar saat mempraktekan pepatah itu, #4 (empat) jari menunjuk dirinya sendiri. Tahun ini kamu, Ainan, kamu merangkum tanggapan yang kamu baca itu dengan pepatah, “siapa menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”. Siapa yang menepuk air dan muka siapa yang terpercik, Ainan?

Ainan, kamu meman jahat, kamu penyebar HOAX dari gunung cartensz, kami ada nonton kamu dari kaki gunung apa yang kamu lakukan disana,
jangan keluarkan air kabur dari top-gunung, nanti kami jadi penyebar mesum.

Di kaki gunung:
Kami sedang mati misterius
Kami bayar jutaan pegi ke sekolah
Kami bayar satu semen saja jutaan
Kamu dari CGK ke DJJ ke SNK naik apa

Kami tidak banyak kata, yang kami mau menasehati kamu adalah Please jangan diajarkan kelakuanmu seperti itu ke anak kamu dan suami kamu bahkan orang-orang disekitarmu. Nanti dunia kacau gara-gara HOAX.


Karya: Nopi Jr

Mar 22, 2017

Puisi, Nelayan tua

Pic: Nelayan Paniai/Ist

"Nelayan tua"  
"angin laut berhembus lembut.
"Menerjan ombak menantang maut.
"Demi mendapat sekeranjang harta.
"Sebagai penyambung nyawa keluarga.
"Mengharap semua senyum iklas membuatmu bahagia.
"Nelayan tua sang pemeluk lautan"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Pengarang 'Oktoviana Nawipa' adalah siswi di SMK Anigou Nabire-Papua




Selamat Beranjak hai Kau ITADAGI

Pic: Gate of Papua

#coretan//^\\dinumoGo!

ITADAGI. saman sedang beralih, dimana lagi dan kemana lagi hai ITADAGI, kini sudah bebas masuk sembarang, aku lupa buat, merancang hai kau ITADAGI,
sebab kaulah yang menjagaku; menuntungku; pembatas dengan hal-hal buruk; tempat kediamaman bagi keluarga; asas budayaku.

pemeliharanku pintu masuk Rumah dan sekelilingi Rumah agar tidak ada orang, binatang dan hal-hal buruk lainnya yang hendak menghancurkan hubungan keluarga dan sesama.

Sudahlah hai kau ITADAGI selamat beranjak sudah sekarang zaman modern sampai pasca modern pun aku tidak mengingat kembali kau lagi, mataku tidak begitu indah memandang kau hai ITADAGI, aku sudah dibohongi, dimanjai oleh dunia baru.

Bahuku sudah runcing, tanganku sudah panjang, hatiku bertumbuh benaluh kemalasan, otakku diracungi air putih yang sangat jahat dan pahit, kakiku lembek bertahan menahan hai kau ITADAGI.

hai ITADAGI selamat menghilang. Selamat jalan. Selamat beranjak.

~~~~~~~~~~~~~~~~pis KOYA UWE " Woda Beu"~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Old docs that can’t unroll anew”

Amanai..!


@Auburn, WA

Feb 7, 2017

Kapan Jawabanmu, Kami disini Terlena

Ilustrasi: google picture

Nopjr.com/Puisi - Ikrar itu kelihatannya seperti bekas luka dan itupun harus diterobati

Kan? kami ditungguh-tungguh sekian juta detik yang kita lewati bersama!

Bilang planet tuk berhenti sejenak selama keperluanku, itupun mustahil
Bisah saja namun pemegangnya adalah saya, kamu, mereka, dia, itu pantas kan?

Meman jika ada kesempatan yang perlu kita selesaikan, kita bisa tahan jam jarum pendek seberapa kita mau luangkan, itukan mudah, bukan?

Dengan melihat ilmuan dunia tidak bisa lakukan seperti itu, sebenarnya pemegang jam itu siapa? Itu lo.

Tidak tau = X, kami bisa hanya menyederhanakan sesuai daily life masing-masing orang,

Kalau itu kamu yang pegang, pertanyaannya kapankah janjimu itu akan terjawab?

Aku disini dan henin sejenak akan mengukir kata manismu itu, semanis ubi Papua!

Dimanakah harga dirimu? Sekutip kata yang dikeluarkan mulutmu sejak itu, atau hanya seolah-olah senjata peluru yang keluar dari mulut tidak bisa tertangkap kembali? 
lebih parah lagi adalah kamu tidak tembak sasaran yang jitu.
Paling parah juga adalah seandainya peluru itu membelok sasaran yang tidak menentu? kapan peluru itu tembus sesuai target? Ya, kamu yang harus bertanggung jawab. 
harapku adalah peluru itu kena pada tikus-tikus yang berkeliaran di meja kantor, dan pemegang hakku.

Dan aku menggambar hidupku begitu disayangi! In my face no hope, in my eye no light.
Adakah rasa kasihmu, saat sebelumnya?
Mungkin mereka lupa hidup jarak menuai derita!
Adakah rasa cinta? Don’t turn left our right.
Kami disini
Sengsara dan terlantar

Pengarang Nopjr.

Jan 8, 2017

Puisi: Tidak Mau Patah Sayap, Lagi!

Ilustrasi: Patah sayap, lembaran hidup - WordPress.com

Tebakan sejenak di sudut pasar karang
Menyapa dengan badanihku
Jadikanku disepah buang
Sudah tidak lagi tempel di kiri sayapku
Seperti doe loe 

Tepat kumenoreh ke wajah akrab dipandanganku
roh batinku hasrat memegangnya
malu aku,, entahlah.
engkau adalah sayap kanan kolegaku yang satu
betapa jiwaku hancur, sehancur serayah dunia

aku hanya tertawa kepada bintang-bintang di langit
sambil tunggu sebintang engkau
dengan penuh mujarab…
sebelum bulan purnama membawah anak-anaknya
aku bepijak titik fokusku, siang pun aku ada

dengan penuh senangku, 
rayuanmu tempo itu
berangin ke arah lain 
ku ingin girang seperti engkau girang
aku tidak mau lagi, patah sayapku

Kreasi: Nopi Jr





Aug 13, 2016

P'juangan secara tenang

Ist/Perjuangan secara tenang
Pada 1965 Martin Luther King Jr. memimpin orang-orang kulit hitam di Selma ke Montgomery di Alabama untuk mendapatkan hak mereka ikut dalam pemilihan umum. Dalam perjuangan itu, Marthin Luther King Jr. bergeming untuk berjuang tanpa kekerasan sekalipun polisi dan kelompok anti kulit hitam menodong mereka dengan senjata api.

Pada 2016 Yu Sutinah bersama delapan perempuan dari Rembang berjuang menolak pembangunan pabrik semen di Rembang. Mereka duduk dalam diam di depan Istana Merdeka dengan kaki-kaki yang di semen sebagai simbol penolakan. Nama Yu Sutinah sudah barang tentu tak sepopuler Yu Jum, penjual gudeg, atau Y[o]u Tube, penyedia video di ranah dunia maya.

Pada 2016 segenap Mahasiswa/I Papua di Yogyakarta, ketika mereka ingin meluruskan sejarah yang orang banyak begitu pura-pura tidak tahu, untuk mengajukan kepada pengabdi Rakyat. Serta-merta aparat low level - high level berkerimun mendekati mereka, saat mereka memutuskan untuk menuju ke Rumah bersama yakni white house, dimana mereka hanya ingin menyampaikan Syaloom sebagai kata pembuka dan tidak banyak hal tentang isi ungkapan mereka yang bertentangan dengan institusi, hanya ingin melontarkan tanpa kekerasan secara diam kepada orang No. 1 ditanah air kita.

Tak seperti Martin Luther King Jr yang mudah untuk bertemu dengan Presiden Lyndon B. Johnson, Yu Sutinah dan seluruh Mahasiswa belum bertemu—kalau tak dikatakan sulit bertemu—dengan Presiden Joko Widodo padahal mereka sudah di depan Istana sejak 12 April 2016 (untuk rombongan Yu Surinah) dan ditahan oleh TNI/POLRI belum sampai  di istana (untuk Mahasiswa/i Papua)

Perjuangan Yu Sutinah dan teman-teman sudah dimulai sejak 2014. Sama seperti Martin Luther King Jr., perjuangan Yu Sutinah juga diwarnai dengan berbagai aksi kekerasan dari pihak pengusaha yang didukung aparat. Inilah yang menjadi alasan mengapa bukan para lelaki—menurut Yu Sutinah akan lebih emosional saat berhadapan dengan mereka yang mengedepankan kekerasan—yang melakukan aksi perjuangan tersebut.

Begitu pula Mahasiswa setiap bulan dari sejak doeloe, dimana hari kebesaran bagi Papua, mereka selalu berbondong untuk melontarkan ide mereka secara demokratis. Namun, faktanya terlihat meredahkan dan tidak pernah dipenuhi. Sakit dobel sakit.

Ini memang soal pilihan. Namun, bukan pilihan yang mudah. Di tengah berbagai tantangan hidup yang semakin berat dan keras, memilih untuk menjalani hidup tanpa kekerasan mungkin bukan pilihan populer. Namun, baik Martin Luther King Jr, Yu Sutinah dan Mahasiswa/I Papua menunjukkan bahwa perjuangan tanpa kekerasan tetap dapat menjadi pilihan terbaik. Kekerasan memang harus dihadapi dengan sikap tanpa kekerasan.

Mereka menunjukkan bahwa perjuangan tanpa kekerasan masih layak diperhitungkan sebagai cara untuk menjalani laku hidup. Di tengah dunia yang semakin gaduh, diam menjadi mata air yang menyejukkan. sebab? berani.! karena? benar.!


Semoga!


@Makidi..!

Aug 10, 2016

Puisi, Orang Muda

M. Kadepa's FotoPuisi Orang muda
Jika pandai meniti buih
Selamat badan dan seberang
Jika tuan menaruh kasih
Boleh tuang datang bertandang
   Sungguh segar buah jambu
Tumbuh dialam belakang
Sungguh mati hatiku rindu
Kenapa abang tak lama datang
Kota malang kota dingin
Surabaya kota pahlawan
Siapa orang tak kepingin
Punya teman cantik rupawan

Oleh: Okene Musa Kadepa


@makidi..!